ABSTRAK
Rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa merupakan suatu masalah, padahal kemampuan berpikir kreatif ini merupakan kebutuhan yang mutlak dipenuhi oleh individu yang hidup di abad ke-21. Untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa dapat dlihat berdasarkan indikator berpikir kreatif yaitu kefasihan, fleksibilitas, dan kebaruan. Dengan menggunakan masalah open ended dapat mendeskripsikan indikator berpikir kreatif dimana masalah open ended merupakan masalah yang memiliki banyak jawaban, cara dan strategi dalam menyelesaikannya. Karakteristik siswa dikenal dengan gaya kognitif dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa, dalam hal ini siswa gaya kognitif field dependence dijadikan subjek penelitian.
Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan dan tingkat berpikir kreatif siswa dependence dalam menyelesaikan masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIPA 1 SMA N 1 Muaro Jambi yang mempunyai gaya kognitif field dependence. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penulis sendiri, tes gaya kognitif, lembar tes soal matematika berupa masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat, dan pedoman wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk indikator kefasihan mencapai persentase 29,17% termasuk kategori sangat rendah, untuk indikator fleksibilitas mencapai persentase 58,34% termasuk kategori sedang, untuk indikator kebaruan mencapai persentase 4,17% termasuk kategori sangat rendah sehingga siswa dependence hanya memenuhi indikator fleksibilitas. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa siswa dependence berada pada tingkat 2 berpikir kreatif yaitu cukup kreatif.
Kata Kunci: Berpikir kreatif, Siswa Dependence, Open-ended
PENDAHULUAN
Matematika merupakan dasar untuk melatih berpikir kritis, kreatif, dan mempunyai kemampuan bekerjasama yang efektif (PMPN No. 22 Tahun 2006). Kompetensi tersebut diperlukan agar masing-masing individu dapat memiliki kemampuan untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Pada mata pelajaran mate-matika terdapat banyak materi, salah satunya yaitu materi grafik dan persamaan kuadrat. Manfaat mem-pelajari materi grafik dan persamaan kuadrat ini adalah siswa dapat me-nyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep grafik dan persamaan kuadrat. Selain pada bidang matematika, manfaat lainya juga berguna dalam mempelajari disiplin ilmu fisika.
Dalam mempelajari materi ini siswa banyak mengalami kesulitan. Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman penulis, kesulitan tersebut diantaranya yaitu kesulitan dalam penulisan dan menentukan kooefisien dan kosntanta serta menentukan akar-akar dari persamaan kuadrat.
Kesulitan-kesulitan ini tentu tidak semua siswa mengalaminya, hal ini dipengaruhi oleh gaya kognitif siswa. Menurut Uno H.B (2012:185) gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar yang ber-hubungan dengan lingkungan belajar. Salah satu gaya kognitif yaitu gaya kog-nitif field dependence. Menurut Desmita (2014:148), gaya field dependence (FD) dan field independence (FI) merupakan tipe gaya kognitif yang mencerminkan cara analisis seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Individu dengan gaya FD cenderung sangat mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungannya.
Ditinjau berbagai aspek manapun berpikir kreatif sangat diperlu-kan, apalagi pada zaman sekarang. Sejalan dengan itu, Cropley dalam Wijaya A (2012:56) menyatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif dan inovatif serta kemampuan pemecahan masalah merupakan keterampilan mendasar yang mutlak sangat dibutuhkan di abad ke-21. Lebih lanjut Wijaya A (2012:56) mengatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan serta keberanian untuk mengambil resiko.
Namun, pada kenyataannya saat ini baik guru maupun siswa sulit untuk mengembangkan berpikir kreatif. Hal ini disebabkan oleh guru hanya memberikan soal-soal rutin yang tidak dapat membuat siswa berpikir kreatif. Sehingga pada akhirnya siswa sulit untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.
Adapun jenis masalah yang dapat mengungkapkan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah masalah terbuka (open ended). Masalah terbuka (open ended) menuntut siswa untuk menemukan lebih dari satu jawaban dan cara yang benar untuk menyelesaikannya. Dalam hal ini di-perlukan kreativitas dalam pemecahannya, sehingga masalah terbuka (open ended) merupakan salah satu masalah dalam matematika yang dapat mengakomodasi potensi kreatif siswa.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Soeyono Y (2013) pem-belajaran dengan menggunakan pen-dekatan open ended memaksa siswa secara positif berpikir untuk menemukan solusi. Secara berkelompok atau individu, siswa diarahkan untuk menjawab masalah terbuka yang diberikan. Sehingga siswa mendapat pengalaman positif yang akan menambah wawasan siswa terhadap keberagaman terutama dalam menghadapi masalah serupa. Dengan begini dapat mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa.
Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian dengan judul “Analisis Berpikir Kreatif Siswa Depen-dence dalam Menyelesaikan Masalah Open Ended pada Materi Grafik dan Persamaan Kuadrat Di Kelas X SMA”.
Berdasarkan latar belakang masa-lah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa yang me-miliki gaya kognitif field dependence (FD) dalam me-nyelesaikan masalah open ended yang berkaitan dengan materi grafik dan persamaan kuadrat di kelas X SMA.
2. Mendeskripsikan tingkat berpikir kreatif siswa mengenai materi grafik dan persamaan kuadrat dalam menyelesaikan masalah open ended pada siswa yang memiliki gaya kognitif field dependence (FD) di kelas X SMA.
KAJIAN PUSTAKA
Menurut Surya M (2015:117) berpikir didefinisikan sebagai suatu proses mental dalam mengeksplorasi peta penga-laman yang merupakan satu keterampilan bertindak dengan kecerdasan sebagai sumber daya pe-nalaran. Kemudian, pada hakikatnya pengertian kreatif menurut Daryanto (2013:114) berhubungan dengan penemuan sesuatu, mengenai hal yang menghasilkan sesuatu yang baru dengan menggunakan sesuatu yang telah ada. Dari pengertian diatas dapat disimpul-kan bahwa berpikir kreatif adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk menciptakan sesuatu ide baru dari kumpulan ide, keterangan, pengalaman, dan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan meng-hubungkan ide-ide yang sudah dimiliki dapat menghasilkan ide baru untuk menyelesaikan suatu masalah.
Tiga komponen yang diguna-kan untuk menilai kemampuan berpikir kreatif melalui TTCT adalah kefasihan, flek-sibilitas dan kebaruan. Pengertian lebih jelasnya sebagai berikut:
1. Kefasihan adalah jika siswa mampu menyelesaikan masalah matematika dengan beberapa alternatif jawaban (beragam) dan benar.
2. Fleksibilitas adalah jika siswa mampu menyelesaikan masalah matematika dengan strategi penyelesaian masalah yang berbeda.
3. Kebaruan adalah jika siswa mampu menyelesaikan masalah matematika dengan beberapa jawaban yang ber-beda tetapi bernilai benar dan satu jawaban yang tidak biasa dilakukan oleh siswa pada tahap perkembangan mereka atau tingkat pengetahuannya.
Menurut Desmita (2014:148), seorang siswa dengan gaya kognitif field dependence (FD) menemukan kesulitan dalam memproses, namun mudah mem-persepsi apabila informasi dimanipulasi sesuai dengan konteksnya. Ia akan dapat memisalkan stimuli dalam konteksnya tetapi persepsinya lemah ketika terjadi perubahan konteks.
Masalah yang diformulasikan memiliki multijawaban benar disebut masalah tak lengkap atau problem open ended atau problem terbuka. Contoh penerapan problem open ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta untuk mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir. Sifat “keterbukaan” dari masalah ini dikatakan hilang jika guru hanya mengajukan satu alternatif cara dalam menjawab permasalahan (Suherman H, 2001:123)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan subjeknya adalah 3 orang siswa kelas X MIPA 1 SMA N 1 Muaro Jambi yang memiliki gaya kognitif field dependence.
Instrumen utama pada penelitian ini adalah peneliti itu sendiri dan instrumen pendukung lainnya adalah:
Group Embedded Figures Test (GEFT) untuk mengetahui gaya kognitif siswa, lembar tes masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat untuk mengungkap berpikir kreatif siswa berdasarkan aspek berpikir kreatif, pedoman wawancara yang digunakan untuk mengetahui secara mendalam berpikir kreatif siswa.
Adapun prosedur pengumpulan data yaitu peneliti melakukan tes pemilihan subjek dengan memberikan tes GEFT kepada siswa sehingga diperoleh siswa dengan gaya kognitif field dependence (FD). Kemudian memberikan lembar soal matematika berupa masalah open ended materi grafik dan persamaan kuadrat yang telah divalidasi kepada subjek penelitian, hal ini merupakan triangulasi sumber. Setelah mendapatkan data hasil tes lembar soal matematika maka selanjutnya yaitu melakukan wawancara dengan memberikan pertanyaan berkaitan dengan jawaban tertulis yang telah dikerjakan oleh siswa, hal ini merupakan triangulasi teknik. Hasil jawaban tertulis dan verbal (diper-oleh saat wawancara) kemudian dikaji ketetapannya atau kekonsistenannya. Terakhir melakukan analisis terhadap seluruh data yang berhasil dikumpulkan.
Analisis data pada penelitian ini dimulai dari tahap reduksi dengan memfokuskan pada siswa yang hasil jawabannya mengacu pada aspek berpikir kreatif. Selanjutnya tahap penyajian data yaitu pengklasifikasian dan identifikasi data mengenai jawaban siswa berdasarkan indikator berpikir kreatif kemudian disajikan. Terakhir yaitu penarikan kesimpulan dengan menjawab rumusan masalah.
HASIL PENELITIAN DAN PEM-BAHASAN
Deskripsi Data Hasil Validasi Instru-men Penelitian
Pada penelitian ini, instrumen gaya kognitif Group Embedded Figures Test (GEFT) sudah dan reliabel hal ini sesuai dengan pendapatkarna telah mengalami sejumlah pengujian. Untuk instrumen tes masalah open ended dan pedoman wawancara telah divalidasi. Pada lembar validasi, terdapat 3 kriteria yang dinilai oleh validator sesuai pendapat (Hendriana dan Soemarmo, 2014:57), meliputi penilaian terhadap konstruksi soal/pedoman wawancara, penggunaan bahasa, dan materi. Dimana skala penilaian yang dituangkan dalam bentuk penilaian gutman berupa pernyataan setuju (s), kurang setuju (ks) dan tidak setuju (ts). Instrumen divalidasi oleh ahli yaitu 2 orang dosen pendidikan matematika dan 1 orang guru mata pelajaran matematika dan dinyatakan layak setelah mengalami beberapa kali berbaikan.
Deskripsi Data Hasil Tes Gaya Kognitif
Tes gaya kognitif dilakukan pada tanggal 23 September 2016 diikuti oleh 36 siswa. Setelah pelaksanaan tes GEFT, dilakukan pemeriksaan dan diperoleh hasil yaitu 20 siswa dependence dan 16 siswa independence.
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari kelas yang diambil peneliti sebagai subjek penelitian mayoritas siswa memiliki gaya kognitif field dependence yakni sebesar 55.55% dari jumlah siswa, hal ini sesuai yang diharapkan oleh peneliti. Berdasarkan tabel 4.1 terlihat bahwa 9 dari 11 orang siswa laki-laki memiliki gaya kognitif field independence dan 18 dari 25 orang siswa perempuan memiliki gaya kognitif field dependence, hal ini sesuai dengan pendapat Ghufron dan Risnawita (2013:88) yang mengemukakan bahwa gaya kognitif field independence banyak terdapat dikalangan laki-laki dan gaya kognitif field dependence banyak terdapat dikalangan perempuan.
Selanjutnya peneliti mendiskusikan hasil skor gaya kognitif yang diperoleh kepada guru matematika yang mengajar di kelas X MIPA 1 dengan mencocokkan skor dan ciri-ciri serta karakteristik siswa field dependence secara teoritis. Setelah diskusi dilaksanakan tes gaya kognitif, dari 27 siswa dengan gaya kognitif field dependence diperoleh 3 orang siswa yang memiliki gaya kognitif field dependence yang paling kuat.
Deskripsi Data Hasil Tes Masalah Open Ended Pada Materi Grafik dan Persamaan Kuadrat
Tes masalah open ended dilakukan pada tanggal 30 september 2016 yang terdiri dari 2 soal yang dapat dijadikan data untuk menganalisis kemampuan dan tingkat berpikir kreatif siswa dependence.
Hasil tes masalah open ended dideskripsikan berdasarkan tahap penyelesaian masalah menurut polya dalam Suherman (2001:91). Dari ketiga siswa dependence menunjukkan bahwa pada tahap memahami masalah telah memahami masalah dengan baik namun masih terdapat kekurangan, penggunaan kata yang belum sederhana dan membuat penyelesaian masalah belum sistematis, selanjutnya tahap membuat rencana untuk menyelesaikan masalah telah membuat rencana penyelesaian masalah dengan baik, yakni dimulai dengan menggambar informasi-informasi yang ada pada soal dan menggunakan serta menghubungkan semua informasi yang ada pada soal. Kemudian tahap melaksanakan penyelesaian masalah telah melaksanakan penyelesaian soal dengan baik dan tepat perhitungan dan hasil yang diperolehnya sudah benar. Namun masih ada beberapa jawaban yang kurang lengkap atau belum memberikan keterangan pada setiap langkah penyelesaian. Terakhir tahap memeriksa kembali jawaban belum secara keseluruhan memeriksa jawaban dengan baik karena siswa dependence hanya memeriksa perhitungannya saja.
Deskripsi Data Hasil Wawancara
Wawancara dilakukan setelah subjek mengerjakan tes masalah open ended. Hasil wawancara dideskripsikan berdasarkan tahap penyelesaian masalah menurut polya dalam Suherman (2001:91). Dari ketiga siswa dependence menunjukkan bahwa pada tahap memahami masalah telah memahami soal dengan baik namun belum sepenuhnya sehingga menyebabkan jawaban yang diberikan terdapat kekurangan dan belum sistematis. Selain itu dalam menuliskan diketahui dan ditanya berdasarkan soal belum menggunakan kalimat yang sederhana. selanjutnya tahap membuat rencana untuk menyelesaikan masalah telah membuat rencana penyelesaian masalah dengan baik, yakni dimulai dengan menggambar informasi-informasi yang ada pada soal dan menggunakan serta menghubungkan semua informasi yang ada pada soal. Kemudian tahap melaksanakan penyelesaian masalah telah melaksanakan penyelesaian soal dengan baik dan tepat perhitungan dan hasil yang diperolehnya sudah benar. Namun masih ada beberapa jawaban yang kurang lengkap atau belum memberikan keterangan pada setiap langkah penyelesaian. Terakhir tahap memeriksa kembali jawaban belum secara keseluruhan memeriksa jawaban dengan baik karena siswa dependence hanya memeriksa perhitungannya saja.
Dari penyelesaian lembar soal matematika dan wawancara akan diketahui dan dideskripsikan terkait kemampuan berpikir kreatif berdasarkan indikator berpikir kreatif siswa dependence sebagai berikut:
Indikator Berpikir Kreatif
Kefasihan
Kefasihan yaitu menuntut siswa untuk menghasilkan banyak jawaban. Dalam hal ini aspek kelancaran meliputi kemampuan menyelesaikan masalah dan memberikan banyak jawaban terhadap masalah yang diberikan.
Berdasarkan hasil penelitian dan deskripsi tahap penyelesaian masalah maka ketiga subjek dapat diberi skor pada tabel 4.5
Tabel 4.5 Penskoran Indikator Kefasihan Berpikir Kreatif
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa Subjek FD1, FD2, dan FD3 telah memberikan penyelesaian masalah yang baik, walaupun secara umum subjek hanya memberikan 1 cara penyelesaian pada masing-masing masalah. Dimana pada masing-masing penyelesaian masalah masih terdapat kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan masalah. Hal ini sesuai dengan pendapat Adibah (2015:122-123) yang mengatakan bahwa secara teoritik, salah satu karak-teristik individu yang bergaya kognitif field dependence dalam menerima informasi adalah melihat syarat lingkungan sebagai petunjuk di dalam merespon suatu stimulus. Hal ini yang dialami subjek FD ketika memecahkan masalah open ended yang diberikan. Subjek FD selalu terpaku pada pola yang ada, bagi subjek FD me-mecahkan masalah diluar rumus yang ada beresiko melakukan kesalahan.
Jadi persentase Ketercapaian Indi-kator Kefasihan adalah
=𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑥 100%
= 724 𝑥 100%
= 29,17%
persentase ketercapaian indikator kefasihan berada pada kategori sangat rendah sehing-ga dapat disimpulkan bahwa siswa dengan gaya kognitif field dependence tidak me-menuhi indikator kefasihan.
Fleksibilitas
Fleksibilitas ialah jika subjek mampu menjawab soal dengan memberikan perubahan cara atau pendekatan yang diambil saat memberikan tanggapan dengan tepat dengan perhitungan dan kaidah matematika yang tepat berdasarkan strategi penyelesaian soal yang digunakan sehing-ga tidak ada kekakuan dalam berpikir.
Berdasarkan hasil penelitian dan deskripsi tahap penyelesaian masalah maka ketiga subjek dapat diberi skor pada tabel 4.6
Tabel 4.6 Penskoran Indikator Fleksibilitas Berpikir Kreatif
Berdasarkan hasil penelitian lembar soal berupa masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat dan hasil wawancara menunjukkan bahwa ketiga subjek ini telah memberikan pemecahan masalah yang baik dan masing-masing memberikan beberapa strategi penyele-saian masalah yang tepat dengan kaidah matematika yang sesuai. Namun ketiga subjek belum menyelesaikan secara struktural yakni dengan menggunkan keterangan pada setiap langkahnya. Secara umum ketiga subjek dapat meng-analisis semua informasi-informasi pada soal dan telah melaksanakan tahap-tahap penyelesaian masalah dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Desmita (2014:149) yang menyatakan bahwa siswa dengan gaya kognitif field dependence me-miliki kemampuan lebih dalam meng-analisis informasi yang kompleks, yang tak terstruktur dan mampu mengorganisasinya untuk memecahkan masalah. Jadi persentase Ketercapaian Indi-kator Fleksibilitas adalah =𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑥 100% = 14 24 𝑥 100% = 58,34% persentase ketercapaian indikator fleksibilitas berada pada kategori sedang sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa dengan gaya kognitif field dependence memenuhi indikator fleksibilitas.
Kebaruan
Kebaruan adalah keaslian ide-ide yang dihasilkan dalam menanggapi ide dengan tepat. Ada tiga perbedaan pendekatan yang digunakan untuk meng-ukur kemampuan penting ini. Pendekatan pertama adalah dalam hal menghasilkan ide yang tidak umum. Pendekatan kedua dalam hal menghasilkan jawaban yang cakap. Pendekatan ketiga adalah dalam hal kemampuan untuk membuat sedikit asosiasi (Silver, 1997:76). Pada aspek ini siswa dituntut untuk memberikan jawaban atau solusi yang tidak lazim atau solusi baru yang lain dari yang lain dan jawaban jarang diberikan oleh kebanyakan orang.
Berdasarkan hasil penelitian dan deskripsi tahap penyelesaian masalah maka ketiga subjek dapat diberi skor pada tabel 4.7
Tabel 4.7 Penskoran Indikator Kebaruan Berpikir Kreatif
Berdasarkan hasil penelitian lembar soal berupa masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat dan hasil wawancara menunjukkan bahwa 2 dari 3 subjek ini belum ada yang menjawab atau menyelesaikan soal dengan gagasan-gagasan yang baru atau tidak lazim karena mereka menggunakan metode penyelesaian yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang. Dimana solusi yang diberikan adalah solusi yang diajarkan oleh guru di sekolah. Hanya 1 orang subjek yang memberikan penyelesaian masalah dengan gagasan-gagasan yang baru atau tidak lazim, namun gagsan yang diberikan tidak tepat dengan konsep yang ada pada pelajaran matematika. Sehingga ketiga subjek belum memenuhi indikator berpikir kreatif.
Jadi persentase Ketercapaian In-dikator Kebaruan adalah
=𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑥 100%
= 124 𝑥 100%
= 4,17%
persentase ketercapaian indikator kebaruan berada pada kategori sangat rendah sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa dengan gaya kognitif field dependence tidak me-menuhi indikator kebaruan.
Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif
Berdasarkan deskripsi data hasil lembar soal matematika berupa masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat dan data hasil wawancara tampak bahwa FD1 hanya memenuhi indikator berpikir kreatif yaitu fleksibilitas karna FD1 lebih dari satu strategi penyelesaian masalah, untuk indikator kefasihan FD1 memenuhi hanya untuk soal no. 1 karna FD1 menyelesaikan masalah dengan lebih dari satu cara sedangkan untuk soal no. 2 FD1 tidak memenuhi indikator kefasihan karna hanya meng-gunakan satu cara, dan untuk indikator kebaruan FD1 tidak memenuhi karna walaupun FD1 mengemukakan ide baru dalam menyelesaikan masalah tetapi ide baru yang dikemukan oleh FD1 tidak sesuai dengan konsep matematika yang sudah ada. Jadi secara keseluruhan FD1 hanya memenuhi indikator fleksibilitas se-hingga FD1 berada pada tingak 2 berpikir kreatif yaitu cukup kreatif.
Berdasarkan deskripsi data hasil lembar soal matematika berupa masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat dan data hasil wawan-cara tampak bahwa FD2 hanya memenuhi indikator berpikir kreatif yaitu fleksibilitas karna FD2 lebih dari satu strategi penye-lesaian masalah, namun untuk indikator kefasihan FD2 tidak memenuhi karna FD2 hanya menyelesaikan masalah dengan satu cara dan juga FD2 tidak mengemukakan ide atau gagasan baru dalam menyelesaikan masalah yang artinya FD2 juga tidak memenuhi indikator kebaruan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa FD2 berada pada tingkat 2 berpikir kreatif yaitu cukup kreatif.
Berdasarkan deskripsi data hasil lembar soal matematika berupa masalah open ended pada materi grafik dan per-samaan kuadrat dan data hasil wawancara tampak bahwa FD3 hanya memenuhi indikator berpikir kreatif yaitu fleksibilitas karna FD3 lebih dari satu strategi penyelesaian masalah, namun untuk indikator kefasihan FD3 tidak memenuhi karna FD3 hanya menyelesaikan masalah dengan satu cara dan juga FD3 tidak mengemukakan ide atau gagasan baru dalam menyelesai-kan masalah yang artinya FD3 juga tidak memenuhi indikator kebaruan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa FD3 berada pada tingkat 2 berpikir kreatif yaitu cukup kreatif.
Berdasarkan deskrispi data hasil lembar soal matematika berupa masalah open ended pada materi grafik dan per-samaan kuadrat dan data hasil wawancara dapat diketahui tingkat berpikir kreatif masing-masing subjek penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya dan kembali disajikan dalam bentuk tabel 4.3
Berdasarkan persentase ketercapaian indikator berpikir kreatif, siswa dependence hanya memenuhi indikator fleksibilitas maka siswa dengan gaya kognitif field dependence berada pada tingkat 2 berpikir kreatif yaitu cukup kreatif.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan luaran yang telah dicapai, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada penelitian ini secara keseluruhan gambaran kemampuan berpikir kreatif berdasarkan indikator berpikir kreatif siswa dependence dalam menyelesaikan masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat yaitu secara umum subjek penelitian dapat mengahsilkan gagasan atau strategi dalam menyelesaikan masalah pada setiap masalah open ended yang diberikan. Subjek tidak mampu memberikan banyak cara dan cara yang tidak lazim dikemukakan dalam penyeelsaian masalah. Sehingga subjek penelitian yaitu siswa dependence hanya memenuhi indikator fleksibilitas saja. Adapun persentase indikator berpikir kreatif yang diperoleh adalah kefasihan 29,25%, fleksibilitas 58,5%, dan kebauan 4,25%.
2. Berdasarkan ketercapaian indikator berpikir kreatif maka tingkat berpikir kreatif siswa dependence dalam me-nyelesaikan masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat berada pada tingkat 2 (cukup kreatif) karena hanya memenuhi indikator fleksibilitas.
Berdasarkan hasil penelitian analisis berpikir kreatif siswa dependence dalam menyelesaikan masalah open ended pada materi grafik dan persamaan kuadrat di kelas X SMA, maka disarankan kepada:
1. Siswa dependence hanya memenuhi satu indikator berpikir kreatif yaitu fleksibilitas, sedangkan untuk indi-kator lainnya yaitu kefasihan dan kebaruan belum terpenuhi. Oleh kare-na itu guru perlu membimbing siswa dependence dalam memenuhi indi-kator kefasihan dan kebaruan. Untuk memenuhi indikator kefasihan guru dapat melakukan latihan soal kepada siswa dependence sehingga dengan begitu dapat membuat siswa depen-dence dapat dengan lancar mengerjakan soal-soal matematika lainnya, sedangkan untuk indikator kebaruan guru dapat memeberikan masalah atau soal-soal non rutin sehingga dapat menimbulkan ide-ide baru siswa dependence dalam menyelesaikan ma-salah matematika.
2. Hendaknya guru memberikan pembe-lajaran matematika yang lebih me-libatkan siswa secara aktif dalam me-nemukan dan mengkonstruksi suatu konsep atau prinsip dalam materi yang diajarkan.
3. Hendaknya guru memberikan masalah open ended untuk melatih kemampuan berpikir kreatif yang dimiliki siswa.
4. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan informasi dan pandangan untuk membuat penelitian yang lebih luas tentang tingkat ber-pikir kreatif siswa dependence dalam menyelesaikan masalah open ended.
DAFTAR PUSTAKA
Adibah Fanny. 2015. “Kreativitas Siswa SMA dalam Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau Dari Perbedaan Gaya Kognitif Field Dependent dan Field Independent”. Jurnal Widyaloka IKIP Widyadarma Surabaya. Vol. 2. No. 2.
Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Silver, E. A. 1997. Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Problem Posing. International Reviews on Mathematical Education, 29 (3): 75-80.
Siswono T.Y.E. 2011. Level of Student’s Creative Thinking in Classroom Mathematics. Educational Research and Review. ISSN 1990-3839
Soeyono Y. 2013. Mengasah Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa Melalui Bahan Ajar Matematika dengan Pendekatan Open Ended. Jurnal pendidikan. ISSN 978-979-16353-9-4
Uno, H B, Hamzah. 2012. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Wijaya. 2012. Pendidikan Matematika Realistik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Berdasarkan pengalaman Aulia menjadi seorang guru, bagaimana menumbuhkan berfikir kreatif siswa? dalam soal open Ended kan dituntut siswa bisa menalar, bagaimana jika siswa melenceng jauh penalarannya? perlukah guru memberikan LAS yang menjadi koridor penalaran tersebut? BAgaimana bentuk LAS yang baik? trimakasih.
BalasHapusmenurut saya kita tidak perlu memberi batasan kepada siswa untuk menalar bagaimana cara mereka menjawab masalah open ended yang kita sajikan. namun disamping itu kita perlu tekankan bahwa cara yang mereka gunakan haruslah rasional, logis dan sesuai dengan aturan matematika.berfikir kreatif mempunyai 3 indikator, yaitu kefasihan (kelancaran), fleksibilitas, dan pembaruan. nah disini lah peluang siswa untuk menemukan cara baru dalam menyelesaikan masalah open ended tadi sehingga dapat melatih siswa berpikir kreatif. terima kasih
Hapusdisini berdasarkan pengalaman kalau sudah belajar garafik siswa kebanyakan mengeluh katanya buk sulit dimengerti, menurut saudari adakah contoh media yang bisa menarik minat siswa belajar tentang garfik ini,agar mudah dipahami oleh siswa
BalasHapusmenurut saya kita bisa menggunakan media berupa kalkulator grafik untuk membantu siswa dalam membuat grafik. seperti yang sudah pernah kita bahas bersama tentang penelitian yang dilakukan seseorang di malaysia bahwa dengan penggunaan kalkulator grafik dapat meningkatkan metakognitif siswa. terima kasih
HapusApa yang perlu dilakukan guru untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan?
BalasHapusizin menanggapi
Hapusmenurut saya dengan menggunakan media pembelajarn yang menyenangkan dan mudah dipahami pembelajarannya
setuju dengan pendapat kk anisa, salah satu yang membuat pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan menerapkan media pembelajaran yang baik, kemudian guru juga bisa mengajak siswa belajar sambil bermain ataupun bernyanyi (dengan lirik sesuai dengan pembelajaran misalnya untuk dapat mengingat rumus, rumusnya dijadikan lirik lagu). terima kasih
Hapusmudah ya,,agarpembelajaran menyenangkan mungkin guru harus memahami kondisi siswa dahulu,, mengkombinasikan gaya belajar dengan humor bercanda pada saat tertentu,, tidakhanya monoton dalam mengajar tentu akan membuat siswa jemu
Hapusmenurut Aulia bagaimana membuat siswa lebih berfikir kritis dan kreatif agar bisa menyelesaikan soal dalam bentuk open-ended?
BalasHapusMenurut saya, kemampuan siswa berpikir kreatif dan kritis dpt dilatih dengan menyelesaikan masalah open ended. karna masalah open ended membuka peluang untuk siswa bisa berpikir kreatif dan kritis. terima kasih
Hapussaya setuju kepada aulia,, kita memberikan siswa untuk berfikir, memberikan siswa berpendapat menurut argumen masing masing
HapusMenurut aulua, bagaimana caranya mengintegrasikan siswa dependen dalam pembelajaran aktif dengan menggunakan media interaktif. Tolong dikaji berdasarkan karakteristik siswa dependence secara teoritis
BalasHapus!!
Terima kasih atas pertanyaannya. diantara karakteristik siswa dependence adalah ia suka diskusi atau belajar dalam kelompok dan tertarik dengan sesuatu yang bersifat sosial nah saat menggunakan media interaktif ini tentu menarik minat siswa dependence apalagi kontennya kita masukkan masalah kehidupan sehari-hari. selain itu dalam media interaktif haruslah memuat petunjuk yang jelas pada isi materinya karna karakteristik lain dari siswa depndence adalah memerlukan petunjuk yang lebih banyak untuk memahami sesuatu, bahan hendaknya tersusun langkah demi langkah. terima kasih
Hapus